Ohaguro, Tradisi Wanita Cantik Dengan Gigi Yang Dihitamkan

Jepang terkenal dengan budaya unik serta para gadisnya yang terkesan polos dan imut. Hal ini telah membuat banyak tren kecantikan yang telah tersebar secara luas hingga mancanegara. Salah satu tradisi yang telah mendarah daging dan turun temurun tersebut adalah tradisi Ohaguro.


Ohaguro, yang secara harafiah diartikan sebagai “gigi yang dihitamkan” yang menjadi sebuah praktek dimana wanita jepang akan menghitamkan giginya. Meski praktek mewarnai gigi dikenal juga di Asia Tenggara, Pasifik dan Amerika Selatan, yang paling dikenal adalah di Jepang.

Eksistensi dari tradisi unik ini telah bertahan cukup lama sejak zaman Kofun (250-138 Masehi) hingga akhir abad ke-19 yang menjadikan hal ini sebagai simbol kecantikkan dari kebudayaan Jepang. Pada waktu ini, para bangsawan, terutama wanita telah mempraktekkan kebiasaan ini. Tren ini mengimbangi salah satu tren kecantikan lainnya di masa yang sama.

Kepopuleran Ohaguro semakin meningkat sekitar abad ke-8 hingga ke-12 karena dipraktikan oleh para wanita kerajaan dan para bangsawan. Semakin hitam gigi seseorang, menunjukan bahwa wanita tersebut telah beranjak dewasa. Pada periode Edo (abad 17 – 19 Masehi), praktek ini telah meluas dari kalangan bangsawan ke rakyat jelata juga. Kebiasaan ini juga berkembang pada wanita yang sudah berkeluarga, wanita di atas usia 18 tahun, para PSK dan geisha(wanita penghibur Jepang). Jadi gigi hitam melambangkan kedewasaan secara seksual.

Selain gigi hitam, wajah yang dipoles putih juga menjadi sangat diminati di periode Heian ini. Praktek ini juga melambangkan kesetiaan pada tuannya bagi para samurai. Akan tetapi Sayangnya, proses kosmetik yang memutihkan wajah ini biasanya membuat gigi nampak lebih kuning dari sesungguhnya. Untuk mengatasi masalah ini maka para wanita melakukan Ohaguro.

Selain menunjukan kedewasaan, Ohguro juga dipercaya mampu melindungi gigi dari berbagai kerusakan, seperti gigi berlubang yang kerap kali dialami masyarakat di zaman sekarang. Hal ini dikarenakan Cairan Ohaguro berasal dari asam asetat yang lebih dikenal sebagai Kanemizu.

Kanemizu dibuat dari 1,5 liter air hangat yang dicampur dengan cawan sake. Kemudian dimasukkan ke dalam Loyang besi yang sudah dipanaskan hingga merah menyala dan dibiarkan hingga 5 sampai 6 hari.

Buih akan muncul setelah beberapa hari atas campuran tersebut. Setelah itu, akan disisihkan ke dalam cawan ukuran kecil dan diletakkan dekat dengan api. Setelah hangat, dicampurkan dengan bubuk buah nurude dan besi. Hasil dari campuran terakhir ini yang akan dioleskan pada gigi secara merata. Pemakaian yang teratur dari hal ini membuat gigi menjadi hitam permanen.

Pemakaian yang teratur dan berulang kali membuat gigi menjadi hitam permanen. Ini terbukti dengan banyaknya gigi dari jasad tulang manusia zaman Edo yang ditemukan masih berwarna hitam pekat sampai sekarang.

Meski kepopulerannya bertahan lama, tradisi ini akhirnya hilang ketika zaman pemerintahan Meiji yang melarang pada tahun 1870. Pelarangan tersebut sebagai salah satu upaya untuk membuat negaranya jauh lebih modern. Mengikuti kebiasaan yang lazim sekarang, gigi dibiarkan sesuai warna aslinya. Hal ini diperkuat ketika Permaisuri Kaisar Jepang muncul di depan umum pada tahun 1873 dengan gigi putih.

Hal ini menandakan akhir trend Ohaguro sebagai lambang kecantikan. Namun di beberapa wilayah yang didiami kaum geisha (wanita penghibur Jepang), masih ditemukan wanita mempraktikkan Ohaguro.