Nenek Moyang Suku Dayak Ternyata Berasal Dari China

Suku Dayak merupakan penduduk asli dari Pulau Kalimantan yang ternyata mempunyai asal-usul yang masih dipengaruhi oleh penduduk luar dari pulau. Disebutkan dalam buku Kerajaan Kutai Kartanegara karangan Syaukani Hasan Rais. Sedangkan menurut Mikhail Coomans, nenek moyang dari penduduk Kutai Kartanegara asli berasal dari daratan Asia yang sekarang disebut provinsi Yunan, China Selatan.

Nenek moyang ini hanyalah kelompok kecil yang menjadi pengembara untuk sampai di Pulau Kalimantan. Namun ada beberapa yang menempuh rute dan waktu yang berbeda. Menurut Coomans, suku dayak ini dibedakan menjadi 2 wilayah. Wilayah pertama berada di Kalimantan Selatan dan Tengah. Untuk wilayah kedua adalah Kalimantan Barat, Utara dan Timur.

Menurut tulisan Syaukani Hasan Rais, suku Dayak yang berada di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah, memiliki latar belakang nenek moyang/ leluhurnya dahulu kala melakukan perjalanan melalui Indo China atau Vietnam, Malaya, Sumatera dan akhirnya menyeberangi selat Karimata menuju Kalimantan selatan dan Kalimantan tengah.

“Diperkirakan Suku Dayak yang kini tinggal di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah memiliki rute perjalanan lewat Indo China (Vietnam), Semenanjung Malaya (Malaysia), Sumatera, kemudian menyeberangi Selat Karimata menuju Kalimantan Tengah dan Selatan,” tulis Syaukani. Sedangkan suku Dayak yang tersebar di Kalimantan Barat, Kalimantan Utara, dan Kalimantan Timur, menempuh rute Provinsi Hainan, Taiwan, Filipina, menyeberangi Laut China Selatan dan menuju tiga provinsi tersebut.

Dari sisi antropologis, terdapat perbedaan dari Suku Dayak dari kedua wilayah tersebut. Suku Dayak yang mendiami Kalimantan utara memiliki budaya dan sistem irigasi yang jauh berbeda dengan mereka yang mendiami Kalimantan Selatan dan Tengah

Perpindahan penduduk diperkiran terjadi antara tahun 1500-3000 SM. Pada saat itu, bumi mengalami masa glasial yang artinya, es di kutub utara dan selatan belum mencair sehingga selat-selat kecil yang dalamnya kurang dari 100 meter, belum tersusun seperti sekarang ini dan masih berwujud daratan-daratan yang berdampingan. Maka, sangat mungkin dan tidak mustahil dengan menggunakan perahu kecil, leluhur dan nenek moyang suku Dayak pada waktu itu akan mampu melalui selat Karimata dan Laut China Selatan yang tidak luas.

Menurut Keane, para pendatang termasuk dalam kategori ras kaukasoid dan Mongoloid. FR ukur mengelomppokkannya menjadi dua jenis penduduk yaitu Suku Dayak yang tinggal di hulu sungai yang masuk dalam ras Deotro dan Suku Kutai yang mendiami hilir sungai masuk dalam kelompok ras Proto Melayu

Kesimpulan Syaukani, pengkategorian Suku Dayak di hulu sungai dan Suku Kutai di hilir sungai bersifat sosioreligius, bukanlah geneologis. Mereka awalnya berasal dari ras yang sama yaitu Deotro Melayu, namun Suku Kutai banyak terpengaruh oleh ras Proto Melayu (Banjar, Bugis, dan Jawa), maka suku ini lebih suka dikelompokkan sebagai Proto Melayu.

Ras Proto Melayu mengidentikkan Dayak sebagai orang-orang pedalaman yang tidak beragama Islam dan Kutai diidentikkan dengan penduduk Proto Melayu yang beragama Islam. Sedangkan orang Dayak menyebut orang Islam sebagai “HALOQ” yang berarti orang asing, karena dianggap telah keluar dari kepercayaan adat nenek moyang. Orang Kutai cenderung enggan disebut orang Dayak, sebab mereka beragama Islam.