Kisah Miris Di Balik Sejarah Patung Pancoran

Jika kamu pernah melewati jalan raya pancoran, kamu pasti sudah tidak asing dengan keberadaan patung ini. Patung Dirgantara yang disebut juga Patung Pancoran merupakan salah satu patung yang menjadi simbol penanda kota di Jakarta yang terkenal. Namun siapa sangka ternyata di balik kegagahan patung ini, terdapat kisah miris dalam pembuatannya.

Patung Pancoran dibangun di masa pemerintahan Presiden pertama Republik Indonesia, Ir.Soekarno, dengan ketinggian dari patung sendiri 11 meter dan tinggi kaki patung yang mencapai 27 meter. Awal kisah patung ini bermula dari kebanggaan Bung Karno terhadap heroisme para penerbang Indonesia. Di belakang teras belakang Istana Negara terjadilah percakapan dari Bung Karno dengan Edhi Sunarso (pematung legendaris kepercayaan Soekarno).

“Dhi, saya mau membuat Patung Dirgantara untuk memperingati dan menghormati para pahlawan penerbang Indonesia. Kau tahu kalau Bangsa Amerika, Bangsa Soviet, bisa bangga pada industri pesawatnya. Tetapi Indonesia, apa yang bisa kita banggakan? Keberaniannya!!!”

Edhi yang pada saat itu baru saja menyelesaikan pembuatan relief museum perjuangan di daerah Bintaran Yogyakarta tahun 1959, dipanggil bersama dua seniman lainnya, yaitu Henk Ngatung dan Trubus. Tentu saja panggilan mendadak ini membuat Edhi bertanya-tanya pada diri sendiri. Ketiga pematung handal ini di gabungkan yang kemudian melahirkan patung ‘Selamat Datang’ yang dapat kita lihat di sekitar Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta.

Patung Pancoran digagaskan untuk menghormati jasa para pahlawan penerbang Indonesia yang telah berhasil melakukan pengeboman terhadap penjajahan Belanda di Semarang, Ambarawa, dan Salatiga menggunakan pesawat-pesawat peninggalan Jepang.

Bung Karno meminta Edhie untuk memvisualisasikan sosok lelaki gagah perkasa yang siap terbang ke angkasa. Bahkan Bung Kano kemudian berpose sambil berkata, “Seperti ini lho, Dhie. Seperti Gatotkaca menjejak bentala.”

Pembuatan Patung sempat dihentikan karena terjadi peristiwa G30S/PKI. Di samping itu, Edhie juga kehabisan bahan dan tidak memiliki uang untuk melanjutkan pekerjaan. Ia bahkan sudah banyak menanggung utang kepada pemilik perunggu dan Bank. Pekerjaan dia bahkan disegel lantaran sudah memiliki hutang yang terlampau banyak.

Mendengar berita itu, Bung Karno langsung memberikan dana kepada Edhie untuk menyiapkan patungnya dengan biaya tambahan berbeda untuk biaya transportasi pengangkutan patung ke Jakarta.

Pengerjaan patung pun telah selesai dan telah dibawa ke Jakarta. Setelah 1 minggu berjalan, Bung Karno ternyata ikut turun ke lapangan pekerjaan tanpa sepengetahuan Edhie. Pemasangan pun dimulai dari bagian kaki sampai pinggang yang setiap sambungan dilas.

Ketika pengelasan sampai pada bagian pinggang, Edhie melihat ke bawah dan terlihat banyak orang berkerumun termasuk Bung Karno. Padahal, pada saat itu kondisi kesehatan Bung Karno saat itu sedang tidak baik dan ia sudah tinggal di Wisma Yaso. Edhie pun bergegas untuk turun, namun dilarang oleh Bung Karno.

Pada minggu pertama, April 1970, Pemasangan patung sudah sampai tahap bagian pundak dan tangan kanan. Dalam kondisi yang masih kurang sehat, Bung Karno kembali meninjau proses pemasangan. Edhie sekali lagi bergegas untuk turun dari atas, tetapi lagi-lagi dilarang oleh Bung Karno. Bung Karno meminjam megaphone pasukan pengawal agar saya terus bekerja.

Sebulan berikutnya, Edhie mendapatkan kabar kalau Bung Karno akan melakukan peninjauan untuk ketiga kalinya. Tetapi, sayangnya kali ini Bung Karno tidak bisa menghadirinya dikarenakan sakit serius.

Pukul 10.00 pagi, tanggal 21 Juni 1970, Edhie yang kala itu sedang berada di puncak Patung Dirgantara, melihat iring-iringan mobil jenazah melintas di bawah monumen. Ternyata itu adalah iring-iringan mobil jenazah Bung Karno dari Wisma Yaso menuju Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma. Jenazah Bung Karno akan dibawa ke Blitar.

Kejadian ini langsung membuat Edhie lemas. Ia segera turun dan bersama rekannya Gardono, bergegas menuju Blitar untuk mengikuti upacara pemakaman Bung Karno. Seminggu setelah pemakaman Bung Karno, Edhie bersama tim pekerja monumen melanjutkan pengerjaan akhir yang memakan waktu sekitar satu bulan. Edhie bersama rekannya menyelesaikan monumen tersebut dalam kondisi yang belum diberi nama, belum diresmikan, dan masih memiliki utang.

Namun ia tetap merasa ikhlas dengan apa yang telah ia kerjakan untuk seorang tokoh sebesar Bung Karno yang sangat ia kagumi. Tokoh yang sangat dekat dengan seniman dan menghargai seni.

Ada satu hal  yang menjadi misteri dari patung ini adalah mengenai arah acungan tangan dari Patung Pancoran ini. Banyak spekulasi yang berkembang di masyarakat mengenai kemana arah sebenarnya Patung Pancoran ini menunjuk.

Konon dikabarkan bahwa Patung Pancoran menunjuk ke tempat rahasia dimana Bung Karno meletakkan harta kekayaannya. Kabar lain juga menceritakan bahwa patung ini menghadap ke Pelabuhan Sunda Kelapa yang merupakan jantung peradaban bangsa Indonesia selama di jajah Belanda.

Akan tetapi, sebenarnya tangan patung ini sebenarnya menunjuk ke arah utara tempat Bandar Udara Internasional Kemayoran berada. Bandar Udara Internasional Kemayoran merupakan bandara internasional pertama yang dimiliki Jakarta. Bandar Udara tersebut berfungsi melayani seluruh rute penerbangan domestik dan internasional pada masanya, sebelum akhirnya dipindah ke Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta.

Patung Dirgantara tersebut memiliki makna filosofis, yaitu melambangkan keberanian, ksatria dan kedirgantaraan dengan kejujuran, keberanian dan semangat mengabdi.